2 November 2009

Sejarah Kabupaten Boyolali

Asal mula nama BOYOLALI
menurut cerita serat Babad
Pengging Serat
Mataram, nama Boyolali tak
disebutkan. Demikian juga pada
masa
Kerajaan Demak Bintoro
maupun Kerajaan Pengging,
nama Boyolali
belum dikenal.
SEJARAH KABUPATEN
BOYOLALI
Asal mula nama BOYOLALI
menurut cerita serat Babad
Pengging Serat Mataram, nama
Boyolali
tak disebutkan. Demikian juga
pada masa Kerajaan Demak
Bintoro maupun Kerajaan
Pengging, nama Boyolali belum
dikenal.
Dalam Menurut legenda nama
BOYOLALI berhubungan dengan
ceritera Ki Ageng Pandan
Arang (Bupati Semarang pada
abad XVI. Alkisah, Ki Ageng
Pandan Arang yang lebih dikenal
dengan Tumenggung Notoprojo
diramalkan oleh Sunan Kalijogo
sebagai Wali penutup
menggantikan Syeh Siti Jenar.
Oleh Sunan Kalijogo, Ki Ageng
Pandan Arang diutus
untuk menuju ke Gunung
Jabalakat di Tembayat (Klaten)
untuk syiar agama Islam.
Dalam perjalananannya dari
Semarang menuju Tembayat Ki
Ageng banyak menemui
rintangan dan batu sandungan
sebagai ujian. Ki Ageng berjalan
cukup jauh meninggalkan
anak dan istri ketika berada di
sebuah hutan belantara beliau
dirampok oleh tiga orang
yang mengira beliau membawa
harta benda ternyata dugaan itu
keliru maka tempat
inilah sekarang dikenal dengan
nama SALATIGA. Perjalanan
diteruskan hingga sampailah
disuatu tempat yang banyak
pohon bambu kuning atau
bambu Ampel dan tempat inilah
sekarang dikenal dengan nama
Ampel yang merupakan salah
satu kecamatan di Boyolali.
Dalam menempuh perjalanan
yang jauh ini, Ki Ageng Pandan
Arang semakin meninggalkan
anak dan istri. Sambil menunggu
mereka, Ki Ageng Beristirahat di
sebuah Batu
Besar yang berada di tengah
sungai. Dalam istirahatnya Ki
Ageng Berucap “ BAYA
WIS LALI WONG IKI” yang dalam
bahasa Indonesia artinya “Sudah
lupakah orang ini”.
Dari kata Baya Wis Lali/ maka
jadilah nama BOYOLALI. Batu
besar yang berada di
Kali Pepe yang membelah kota
Boyolali mungkinkah ini tempat
beristirahat Ki Ageng
Pandan Arang. Mungkin tak ada
yang bisa menjawab dan sampai
sekarang pun belum
pernah ada meneliti tentang
keberadaan batu ini.
Demikian juga sebuah batu yang
cukup besar yang berada di
depan Pasar
Sunggingan Boyolali, konon
menurut masyarakat setempat
batu ini dulu adalah
tempat untuk beristirahat Nyi
Ageng Pandan Arang. Dalam
istirahatnya Nyi Ageng
mengetuk-ngetukan tongkatnya
di batu ini dan batu ini menjadi
berlekuk-lekuk
mirip sebuah dakon (mainan
anak-anak tempo dulu). Karena
batu ini mirip dakon,
masyarakat disekitar Pasar
Sunggingan menyebutnya mBah
Dakon dan hingga
sekarang batu ini dikeramatkan
oleh penduduk dan merekapun
tak ada yang berani
mengusiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar NU